Jumat, 17 Februari 2017

Penobatan Anggota Kehormatan Forum Pemuda Betawi Tahun 2017

DR. Hj. Anna Mariana, SH, MH, MBA, dinobatkan menjadi Anggota Kehormatan dari Forum Pemuda Betawi Tahnu 2017.
Selain itu, Tjokorda Ngurah Agung Kusumayudha, SH, MS, MSc, mendapat penghargaan sebagai Anggota Kehormatan Forum Pemuda Betawi.
Penobatan dilaksanakan oleh Plt Gubernur DKI, Soni Sumarsono bersama pengurus Bamus Betawi dan Forum Pemuda Betawi.
Anna Mariana dianggap sebagai Tokoh dan Pelopor Perempuan yang memberi inspirasi dan inovasi baru terhadap budaya Betawi, melalui gagasan dan karya ciptanya dalam dunia tenun dan songket, terutama lagi dari kreasinya menciptakan kain songket dan tenun Betawi.

Anna Mariana, memiliki gagasan menciptakan dan mengembangkan kain tenun dan songket khas Betawi yang akan menjadi ciri khas atau ikon yang melekat bagi kota Jakarta.

"Misi saya memang turut serta mengembangkan budaya Betawi. Bukan itu saja, saya juga ikut serta membantu dalam hal produksi pemasaran, juga pembinaan dalam mendapatkan penenun di wilayah Jakarta, sekaligus juga mengembangkan design-design motif Tenun khas Betawi, jelasnya.

Anna yang berprofesi sebagai Konsultan Hukum lewat Law Firm Mariana & Partners ini menurut Soni Sumarsono pantas menjadi tokoh di bidang Tenun dan Songket.

“Bu Anna sudah menekuni bidang ini lebih dari 33 tahun. Jadi sangat pantas beliau kami nobatkan sebagai salah satu tokoh di tanah Betawi,” ujar Soni.

Awalnya, Anna hanya mengkhususkan diri di bidang Tenun dan Songket Bali, lalu dia mengembangkan kreasi dengan menciptakan motif-motif tenun dan songket baru yang memiliki ciri khas dan corak tersendiri yaitu batik dan songket Betawi.

Karyanya ditenun dari beragam jenis benang, seperti benang emas, benang perak, benang katun, benang sutera dan benang kombinasi.

“Saya sudah mendesain lebih dari 3000 motif, dan sebagian besar sudah saya patenkan, ujar perempuan kelahiran Solo, 1 Januari 1960, pemilik butik Marsya House of Batik Kebaya, Tenun, Songket & Acessories di Pondok Indah ini.

Selain itu, Anna juga membina dan mempekerjakan lebih dari sejuta pengrajin di seluruh wilayah Indonesia.

“Mereka mempunyai keahlian dengan hasil karya bercita seni tinggi. Mereka sudah puluhan tahun berkarir dengan tenun, sehingga sangat piawai. Rata-rata mereka tinggal dan menetap di Bali,” jelasnya.
Semua dengan dana pribadinya, tanpa bantuan pemerintah. Anna mengikat para pengrajin dengan menyediakan modal kerja.

Akhir tahun 2016 lalu, bersama Badan Musyawarah Betawi, Anna mempelopori hadirnya tenun dan songket Betawi. Menurut Anna, dalam budaya masyarakat Betawi, belum pernah ada tenun dan songket.

“Yang ada hanya kain batik dengan motif kembang-kembang dengan selalu ada motif Ondel-Ondel ataupun gambar Monas. Produksi ini kemudian hanya kita kenal sebagai kain dari Batik Cap, Batik Tulis, Batik Printing dan bukan tenun yang terbuat handmade!” ujarnya.

Anna yang juga Ketua Yayasan Sejarah Kain Tenun Nusantara, bersemangat mempelopori kelahiran tenun dan songket khas milik Betawi.

Dalam soal design, Anna tetap mengangkat motif asli dan tidak menghilangkan ciri khas Betawi.
“Tetap terdapat motif Ondel-ondel dengan warna kuning sirih,” tambah Anna yang baru meraih gelar Doktor pada Januari 2017 lalu.

“Sementara kain untuk para Abang dan None terdapat beragam motif, ada Bunga-bungan, Penari Cokek, Monas dan Kembang api!” kata Anna.

Menurut dia, bukan tidak ada tantangan dalam mewujudkan idenya dalam memelopori lahirnya tenun dan songket khas Betawi.

“Mengembangkan apa yang sudah direncanakan, membina para penenun, dan yang lebih penting lagi membawa kain tenun khas Betawi lebih berkembang kw depan. Itu pasti ada tantangannya,” katanya.

Pengembangan tenun dan songket Betawi dirasa perlu. Bukan hanya untuk membuka peluang kerja bagi para penenun, namun juga membuat catatan sejarah baru bagi jenis kain yang akan diproduksi di Jakarta.


Anna dengan jeli mencoba melobi sejumlah pesantren di Jakarta maupun Bali. “Kami mendidik mereka yang sudah berusia 17 tahun dan sudah hatam Al-Quran. Ilmu menenun ini bisa jadi bekal mereka untuk mandiri. 

Jadi mereka tidak hanya paham ilmu agama aja, tapi juga ke soal lain. Jadi kita punya regenerasi baru di bidang tenun,” ungkap alumnus Boston University, Massachusetts, AS–Master of Business Administration tahun 1988 ini.

Anna melihat adanya kelangkaan dalam regenerasi penenun. “Mungkin bagi anak muda pekerjaan menenun terasa kuno dan kurang bergengsi, terlebih dibanding bekerja sebagai pramusaji di cafe.

Saya berupaya membujuk mereka yang masih muda-muda untuk mau berkarya di sini dan menjadikan pekerjaan menenun juga memiliki gengsi sekaligus penghasilan yang memadai,” tambah Anna yang menjadi Komisaris PT. Kharisma Arya Dinamika, Komisaris PT. Buana Konsultindo dan Komisaris PT. Royal Banten Internasional ini.

Anna menyebut tenun dan songket yang merupakan kekayaan budaya yang sudah turun menurun, tidak boleh dibiarkan terkubur dan punah. Tenun dan songket sangat dihargai di luar negeri, karena dalam budaya di luar negeri tidak ada kain handmade. Semua tekstil cenderung buatan mesin dan pabrik.

Karena itu pula, Anna segera mengusulkan kepada Pemerintah agar tenun juga dihargai dalam bentuk peringatan hari Tenun seperti halnya Hari Batik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar